Kanker Payudara (Breast Cancer)

Kanker payudara merupakan penyakit yang disebabkan oleh karena pertumbuhan sel kanker di jaringan organ payudara. Penyakit ini paling banyak menyerang kaum perempuan yang umumnya hampir selalu mengalami situasi fluktuasi hormonal dalam tubuhnya, walau demikian kaum laki juga bisa terkena kanker payudara dengan angka kejadian yang sangat jarang. Kanker Payudara merupakan jenis penyakit kanker dengan jumlah penderita terbanyak nomor dua di dunia, dengan tingkat fatalitas yang cukup tinggi sebagai penyebab kematian nomor lima terbesar di dunia. Di Indonesia kasus kanker payudara ini akan terus meningkat dan diperkirakan akan merupakan kasus kanker terbanyak di Indonesia.

Sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebab spesifik Kanker Payudara. Walaupun demikian, terdapat sejumlah faktor yang mempunyai pengaruh terhadap terjadinya kanker payudara, antara lain:

  1. Diet dengan menu gizi yang tidak seimbang, rendah serat, kurang makan buah dan sayur. Diet tinggi lemak dan alkohol meningkatkan kemungkinan hingga 1,5 kali untuk menderita kanker payudara dibandingkan wanita yang tidak banyak makan lemak dan tidak minum alkohol.
  2. Kebiasaan merokok.
  3. Haid pertama di usia kurang dari 12 tahun atau menopause (berhenti haid) di usia lebih dari 55 tahun dapat sedikit meningkatkan risiko kanker payudara.
  4. Wanita yang tidak menikah, infertil, tidak pernah melahirkan, tidak menyusui, atau melahirkan bayi pertama setelah usia 30 tahun juga dapat meningkatkan risiko.
  5. Riwayat menggunakan preparat hormonal yang lama seperti KB hormonal (pil, suntik, susuk) atau terapi hormonal (misalnya terapi sulih hormon estrogen pada wanita yang menopause) akan meningkatkan risiko kanker payudara.
  6. Obesitas terutama pada wanita setelah menopause.
  7. Memiliki kerabat wanita dekat (seperti ibu kandung, kakak/adik, anak) dengan kanker payudara dapat meningkatkan risiko kanker payudara sampai 2 kali dibandingkan wanita yang tidak memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara. Diperkirakan 20-30% wanita dengan kanker payudara memiliki anggota keluarga yang juga memiliki riwayat kanker payudara.
  8. Terpapar radiasi ionisasi selama atau sesudah masa pubertas.

Tanda awal dari kanker payudara adalah ditemukannya benjolan pada payudara yang terasa lebih padat dari pada jaringan sekitarnya, yang bila ditekan tidak terasa nyeri. Awalnya benjolan berukuran kecil, yang kemudian semakin membesar serta melekat pada kulit dan menimbulkan perubahan (kerutan) pada kulit payudara atau puting susu.

Tanda-tanda sebagai berikut adalah merupakan gejala dari Kanker Payudara yang perlu mendapat perhatian :

  1. Timbul benjolan serta perubahan bentuk dan ukuran payudara,
  2. Kulit payudara berubah warna menjadi kecoklatan dan berkerut seperti kulit jeruk,
  3. Puting susu masuk ke dalam (retraksi),
  4. Puting susu payudara yang kena kanker bisa terlepas,
  5. Ada rasa sakit yang hilang timbul pada payudara,
  6. Kulit payudara terasa panas seperti terbakar
  7. Payudara mengeluarkan darah atau cairan abnormal lainnya,
  8. Timbul borok (ulkus) pada payudara yang semakin membesar dan mendalam sehingga dapat menghancurkan seluruh payudara, berbau busuk dan mudah berdarah.

Pemeriksaan Dini Kanker Payudara sangat penting dilakukan untuk penemuan lebih awal terhadap kemungkinan terjadinya Kanker Payudara, sehingga secara dini pula dapat dilakukan tindakan yang lebih tepat dalam mencegah penyebaran sel kanker lebih lanjut.

Jenis-jenis Pemeriksaan Dini Kanker Payudara, antara lain :

  1. Pemeriksaan Fisik dengan cara Inspeksi dan Palpasi, baik oleh diri sendiri yang sering disebut dengan SADARI (Periksa Payudara Sendiri) maupun oleh Dokter.
  2. Pemeriksaan Radiologis (Mammografi, USG dan MRI).
  3. Biopsi.

Penting untuk diingat,
Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) sebaiknya dilakukan sebulan sekali. Para wanita yang sedang haid sebaiknya melakukan pemeriksaan pada hari ke-7 sampai ke-10 setelah hari pertama menstruasi / datang bulan, ketika payudara sedang mengendur dan terasa lebih lunak.

Jika menemukan adanya benjolan atau perubahan pada payudara segera konsultasikan ke dokter dan perhatikan petunjuk yang diberikan dokter anda.

The American Cancer Society menganjurkan wanita untuk melakukan SADARI mulai usia 20 tahun dan tetap melakukan pemeriksaan mammografi sampai usia 40 tahun setiap 3 tahun sekali. Setelah usia 40 tahun, mammografi harus dilakukan secara rutin setiap satu tahun sekali.

Pemeriksaan dengan metode mammografi juga harus dilakukan setiap 2 tahun sekali terhadap wanita yang telah menopause walau tidak memiliki riwayat kanker dari keluarganya. Jika keluarga Anda memiliki riwayat kanker payudara, lakukan mammografi secara rutin setiap 1 tahun sekali.

Jika Anda terbukti menderita kanker payudara, maka segeralah mengambil keputusan untuk melakukan mastektomi atau pengangkatan sel kanker. Pengobatan lebih dini terhadap kanker payudara akan lebih baik sebelum sel kanker menyebar ke bagian tubuh yang lain.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

*